Hai, sapamu dalam kepolosan seorang bayi
Ucapmu dalam kegelapan padaku:
Kau tak dapat melangkah tanpa pandangan menujuku
Kau tak dapat meniti jembatanmu tanpa eksistensi spirit yang ku hujankan padamu hingga detik ini
Tanpa sapaan kepolosanku
Tanpa tingkahku yang malu-malu
Tanpa keragu-raguanku akan dirimu
Tertatihlah dirimu dalam melangkah
Terjatuhlah dirimu dalam palung samudera terdalam
Karena hanya aku yang mampu membangkitkanmu dari segala jatuhmu
Karena hanya aku yang dapat menciptakan senyum di bibirmu dan mengalirkan air mata di sudut-sudut matamu
Karena hanya aku yang dapat mengontrol langkahmu, hatimu, jiwamu, ragamu, rasa cintamu, emosimu dan rasa bencimu
Mungkin itu yang selalu hadir dalam pikirmu
Membanggakan dirimu akan kelemahanku
Ucapmu dalam kegelapan padaku:
Kau tak dapat melangkah tanpa pandangan menujuku
Kau tak dapat meniti jembatanmu tanpa eksistensi spirit yang ku hujankan padamu hingga detik ini
Tanpa sapaan kepolosanku
Tanpa tingkahku yang malu-malu
Tanpa keragu-raguanku akan dirimu
Tertatihlah dirimu dalam melangkah
Terjatuhlah dirimu dalam palung samudera terdalam
Karena hanya aku yang mampu membangkitkanmu dari segala jatuhmu
Karena hanya aku yang dapat menciptakan senyum di bibirmu dan mengalirkan air mata di sudut-sudut matamu
Karena hanya aku yang dapat mengontrol langkahmu, hatimu, jiwamu, ragamu, rasa cintamu, emosimu dan rasa bencimu
Mungkin itu yang selalu hadir dalam pikirmu
Membanggakan dirimu akan kelemahanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar