Jumat, 21 Oktober 2011

TITLE: STAND BY ME [Part 1]

Taemin POV
Hari ini SM Entertainment, sebuah rumah produksi yang menelurkan musisi-musisi dan aktor-aktris terkenal, mengadakan audisi terbuka. Pagi buta aku sudah terbangun dari tidur nyenyakku, tegang memikirkan audisi yang akan ku ikuti itu. Memang sudah lama ku mimpikan audisi itu, satu cita-citaku, menjadi musisi handal. Karena ku tau kondisi sosial ekonomi keluargaku sangatlah sederhana, aku tidak ingin menyusahkan orang tuaku lagi. Kalau aku bisa, kenapa harus bergantung pada orang tua?? Pikirku.
Hyungku, Lee Tae sun yang cuma berbeda 3 tahun dariku, mendukung penuh mimpi-mimpiku ini. Hari ini pun demi mengantarku ke tempat audisi, dia rela bolos sekolah. Hyung tersayangku memang baik sekali!!...^^ Sedangkan oemma dan appa tidak ikut mengantarku, karena mereka sedang sibuk-sibuknya bekerja.
Di depan gedung kantor  SME, telah berjajar penuh antrian para namja dan yeoja. Dengan tujuan yang sama mereka datang, mewujudkan mimpi mereka.
Langsung saja aku masuk ke dalam gedung itu, melewati semua peserta yang telihat sudah lama berjajar disana. Karena memang aku termasuk salah satu yang beruntung secara khusus ditawari oleh ahjussi, agen pencari bakat dari rumah produksi terkenal ini. Kejadian itu berlangsung saat aku baru pulang dari sekolah dan mampir dulu ke minimarket untuk membeli banana milk, susu kesukaanku. Saat itu aku mengobrol dengannya dan disodori sebuah kartu nama dan pamflet berwarna menarik, ahjussi pun berkata padaku ‘Datang ya, Lee Taemin!! Aku yakin kamu punya banyak bakat terpendam’ katanya sambil tersenyum padaku seolah dia benar-benar tau sejauh mana kemampuan ku. Aku saja bingung kenapa dia berkata seperti itu, setahu ku, aku cuma anak kecil berusia 12 tahun yang mencoba mewujudkan mimpinya saja. Hihi, aku jadi geli sendiri. Tapi akhirnya aku datang juga...
Di dalam lift, aku menekan keypad hpku. Memasukkan nomornya. Hyungku masih berdiri disebelahku sambil mengutak-atik hpnya juga.
“ Minnie-ah, kita lupa izin pada oemma dan appa”
“ Ah, ia hyung!! Aku lupa!!”
“ Sudah, biar hyung aja yang izin pada appa” ucapnya sambil menekan huruf-huruf pada keypad hpnya.
Tak lama terdengar jawaban di seberang hpku. Ah, diangkat juga.
“ Anyeong, aku Lee Taemin, ahjussi. Ahjussi dimana?? aku sudah di lift, seperti yang telah ahjussi intruksikan. Setelah ini aku harus kemana ahjussi??”
Terdengar jawaban disana. Aku menganggukkan kepalaku, mengiyakan perkataannya.
“ Ne, aku mengerti ahjussi... Gamsahamida!!” ucapku.
Di sebelahku ternyata ada seorang namja tampan seumuran hyungku, alisnya tebal dan matanya... seperti bulan sabit. Entah kenapa, ia menatapku dari tadi. Karena merasa risih, aku memalingkan wajahku. Dari sudut mataku, aku melihat, sepertinya dia ingin mengajakku berbicara.
Tiba-tiba hyungku menepuk pundakku.
“ Minni-ah, sudah beres. Appa bilang dia mendoakan mu, semoga berhasil katanya. Oemma jg minta maaf tidak bisa mengantarmu”
“ Ah, ia. baiklah hyung aku lebih bersemangat sekarang. Hosh!! HWAITING!!” teriakku tak sadar sambil mengangkat kepalan kedua tanganku ke udara.
“ B-BWAHA...HUA HAHAHAHA.... HAHA.... HAHA.....!!” namja tampan disebelahku tiba-tiba tertawa meledak, ia menunjuk-nunjuk ke arahku.
Aku dan hyung ku menatapnya heran, kenapa dia bisa tertawa lebar seperti itu padahal aku sedang tidak melucu. Hyungku pun sama sekali tidak tertawa.
Mungkin karena dia sadar hanya dia yang tertawa, seketika itu juga ia menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan kedua tangannya. Matanya yang seperti bulan sabit, tiba-tiba membulat karena malu. Wajahnya berubah kemerahan. Lalu dia berkata...
“ Mian, mianhe...” tanpa melepaskan tangan yang menutupi lubang mulutnya yang menganga karena tertawa lebar, setelah itu ia membungkukkan badannya.
“ Mianhe, Jeongmal mianhe...”
“ Oh ia, hm... hm... kenalkan, aku Lee Jin Ki” lanjutnya sambil membungkukkan kembali badannya.
Aku dan hyungku membalas membungkukkan badan.
“ Aku Lee Tae Sun, dan ini adikku, Lee Tae Min...” kata hyungku.
Mukanya berubah kaget, alis tebalnya terangkat ke atas.
“ JINJJA?? Haha.... haha... aku kira kalian pasangan kekasih....”
Aku dan hyungku saling berpandangan, kembali terheran dengan kelakuan namja itu, sangat tidak jelas apa yang ia tertawakan. Sungguh namja yang aneh... dan katanya kami pasangan kekasih?? Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu, apa ia tidak lihat, aku kan namja juga...
“ Lee tae Min ya?? Baru kali ini ku lihat yeoja secantik dirimu”
Tuh kan, apa ku bilang. Kenapa setiap orang yang baru pertama kali bertemu denganku pasti akan berkata seperti itu. ‘Yeoja yang cantik... yeoja yang cantik sekali...’ tak bisakah mereka melihat?? AKU INI NAMJA!! LEE TAEMIN ADALAH SEORANG NAMJA!!
“ Mian, aku namja!!” jawabku kesal, memonyongkan mulutku ke depan.
Hyungku hanya tersenyum disebelahku, lalu mengacak-acak rambutku dengan lembut.
“ Hyung, hentikan!! Rambutku jadi berantakan” sambil menepis tangannya dari kepalaku.
TTTINNNGGGGGGG...........
Pintu lift akhirnya terbuka.
“ MWO?? NAMJA???” dia terkejut setengah berteriak, lalu menatap bagian dadaku yang benar-benar rata.
“ HAH, ASTAGA!!” sambungnya sambil menepuk kening dan menggelengkan kepalanya.
Hyungku melangkah keluar dari lift, sambil tersenyum geli dan berjalan di depanku.
 “Kajja!! Kita harus kemana, minnie-ah???” tanyanya berusaha menyembunyikan rasa gelinya sambil masih tersenyum.
“ Setelah ini kata ahjussi, kita tinggal belok ke kiri dan nanti langsung masuk pintu ke 2 di sebelah kiri“ akupun ikut melangkah keluar dari lift sambil menoleh ke kiri dan kananku.
“ Hei... hei.... sebentar... sebentar....!!” namja itu berlari menghampiri kami yang meninggalkannya sendiri di dalam lift.
“ Kalian di undang audisi juga ya??” tebaknya tepat.
“ Adikku yang di undang, aku mengantar saja. Kamu di undang audisi juga??” hyung balik bertanya.
“ Owh... Ne... ne... aku juga di undang”
Aku hanya menoleh ke kiri dan ke kanan sambil berjalan mencari ruangan itu.
1... 2... nah ini ruangannya...
“ Hyung ini... ini... ini ruangannya...” ucapku menunjuk-nunjuk pintu ruangan itu sambil nyengir senang.
“ Ya sudah, masuklah!! Hyung tunggu disini ne??”
Ku putar pegangan pintu tersebut. Tiba-tiba hyung memanggilku...
“ Minnie-ah!!” ku palingkan wajahku ke arahnya.
“ HWAITING!!”
Aku mengangguk dan melangkah masuk, tiba-tiba aku merasa sangat gugup.
Di belakang ku menyusul namja aneh itu.
“ Anyeong...!!” ucap kami bersamaan.

TBC 

Minggu, 02 Oktober 2011

Langit dan bumi (Part 3)

Tidakkah cukup ku habiskan 240 minggu hidupku dalam gelap?
Apakah benar ini adalah langkahku atau hanya fantasiku saja?
Selama itu ku terus berjalan dalam gelap, tanpa dapat melihat seorang pun

Yang ku harap takkan pernah muncul dalam gelap
Karena selalu, cummulluzz menghalanginya dan kini ASA pun ikut menghalanginya
Mungkinkah harus ku tambah waktu penantian itu?
Menunggu suatu hal yg sangat tak pasti
Yg terlihat sangat menjanjikan dan dapat memberiku kebahagiaan immortal dalam pandangku

Haruskah ku tahan rasa takut dalam gelap ini sendirian hingga antara cummulluzz dan ASA tidak akan pernah menghalangiku lagi?
Sampai berapa detikkah?
Sampai berapa menitkah?
Atau sampai berapa harikah?
Atau aku harus menambah waktu itu 1/2 dari usiaku?

Mustahil aku dapat bertahan hingga beratus-ratus minggu lagi
Karena sebelum saat itu datang, aku telah mati hipoksia dalam kegelapan

Saat ini,
yg hanya dapat ku lakukan adalah menanti selama yg dapat ku lakukan
Tapi pantaskah aku melakukannya?

Langit dan bumi (part 2)

Aku yakin,
bahwa langit takkan mampu melihatku dalam gelap
bumi pun seolah membiarkanku tertelan kegelapan yg terlalu ku kenal ini

Saat langit memperlihatkan setitik cahaya di balik cummulluzz-nya
mungkin aku memiliki harapan besar
bahwa ku dapat terbebas dari kegelapan ini
bahwa ku dapat merasakan kenyamanan yg selama ini ku impikan
bermandikan cahaya ketenangan

Perlahan,
cummulluz itu menutupi setitik cahaya itu, lagi dan lagi, selalu berulang
sekejap pula segala harapanku hancur seiring bergeraknya cummulluz itu
hanya cummulluzz, satu-satunya yg selalu membentengiku dari setitik cahaya, yg bernama ASA...

Langit dan bumi

Selalu,
seperti ku tak pernah ada
cahaya tak pernah menampakkan wujudnya di hadapanku
tetap, jalanku gelap

Selalu,
waktu tak pernah membuatku merasa hadir
hanya ruang kosong yang sangat ku kenal yang kurasa
ku terlalu mencintai langit dan ku terlalu menginginkan bumi untuk membuatku merasa nyaman
menyembunyikanku dari gelap

Setiap ku berjalan
bayanganku pun tak pernah sudi mengikutiku
ku sendiri di duniaku
ruangku sepi, tetap jalanku gelap
hanya ingin tertunduk

Tapi, aku melawannya
antara aku dan diriku tak pernah dapat menyatu
ku paksakan diriku tuk tetap berjalan di jalan yang tak pernah ku yakini dapat membawaku kepada cahaya ketenangan...

GANBATTE!!!

Biarlah ku berjuang sendiri
Yakin bahwa ku mampu
Yakin bahwa hanya ada diriku sendiri di dunia ini
Karena semua kembali ke usaha masing-masing
Jangan pernah membuka hati
Jangan pernah memberi kesempatan
Sebelum ku mampu meraih dunia
Sebelum ku mampu menggenggamnya dan yakin takkan prnah lepas lagi
Sebelum ku mampu terbang hingga puncak tertinggi bumi
Sebelum ku mampu melihat megahnya mega
Yakin ku pasti mampu!!

Habis Gelap Terbitlah Terang

Setiap detik, ku anggap diriku berada dalam kegelapan
Setiap langkah, ku merasa bayangku pun tak pernah ada mendampingiku

Selalu,
Aku merasa terpuruk terduduk di pojok bumi dengan segala keputusasaan
Tersudut di ujung lembah kegagalan tertinggi hanya seorang diri tanpa setitik pun cahaya
Diriku yang 1 bukan menjadi sahabatku melainkan rival sejatiku
Diriku yang lain selalu ingin terbebas dari segala belenggu yang mengkungkung kuat dirinya

Di luar nalarku
Di luar sadarku

Selalu,
Ada Secercah Cahaya yang senantiasa melindungiku kala ku menjatuhkan diri ke dalam jurang terdalam kehidupan
yang selalu menguatkanku kala ku mulai melemahkan diriku sendiri
Yang selalu setia mendampingiku kala ku mulai menjauhkan diriku dari yang lain
Yang sedikit demi sedikit membuat terang seluruh jalan hidupku
Membuat jalanku menjadi mudah dengan hidayah-Nya, segala anugerah-Nya

Dialah Sang Maha Pelindung, Sang Maha Kuat, Sang Maha Pendamping dan Sang Maha Pemilik segala cahaya
Dialah yang menciptakan segala gelap dapat berganti terbit terang kembali, Dialah Allah SWT, satu-satunya Pemilik Segalaku...

Persimpangan

Kini,
Ku berjalan menyusuri sisa usiaku
Yg semakin asing untukku sendiri

Selalu,
Ku di sudutkan antara 2 persimpangan
Kiri atau Kanan
Lurus atau pun belok
Sering ku berpikir kenapa ku harus memilih
Dan kenapa selalu ada 2 pilihan

Jalan pertama adalah jalan paling terjal yg tak pernah bisa ku susuri
Jalan kedua adalah jalan mulus yg terlalu mudah untukku berjalan

Kau mungkin takkan pernah tau
Kau mungkin takkan pernah menyangka pula
Bahwa keduanya adalah salah untukku...

Sebuah Kepingan

Mungkin kau tak tahu beribu penantian telah ku jalani
Mungkin kau tak tahu angan semuku akan kealpaanmu mampu membelenggu ku tuk menjejakkan langkahku dalam jalanku sendiri

Di balik benteng asa, ku telan semua ketidaktahuanmu itu
Mencoba membalikkannya seperti sebuah cermin berdebu, agar ku dapat mengisi hati ini penuh dengan asa
Meski tak nyata
Meski hanya sebuah fatamorgana dalam gurunnya sikapmu
Tuntunan cahaya yang menyorotnya pun tak mampu membuatnya jelas
Mungkin tak mengapa bagiku
Mungkin tak apa bagiku

Antara eksistensi ketulusan ataukah obsesi yang membuatku sedemikian bodohnya
Hanya terus bertahan berjalan di gurun kering yang kau tunjukkan

Inginku menertawakannya
Membuat segalanya pecah dalam sekejap mata
Hanya tertinggal kepingannya, yang tak mampu menghentikan derap-derap langkahku saja

Diriku, kita tau itu

Diriku, kau tau kita sudah terlalu terbiasa melangkah hanya berdua saja kan??
Kau dan aku
Mungkin karena inilah, kita tau keputusan kita adalah benar & nyata
Berpaling dari cinta tuk sekejap
Berpaling dari segala yg membuat kita penuh berisi hal-hal yg belum saatnya terpikirkan
Adalah yg t'baik, hingga saat yg benar-benar tepat datang

Diriku, kau benar tau bahwa menjejakkan langkah dalam gelap sudah menjadi kebiasaan kita
Setelah kita tau rasa sakit itu seperti apa
Setelah kita tau cara meresistenkan diri dari sakit itu bagaimana
Kita terbiasa bertahan melakukannya

Diriku, teruslah kokoh memegang prinsip kita dalam kehidupan dengan pundi-pundi Islam & fondasi Iman
Karena kita tau bahwa hidup selayaknya sebuah batu
Bila tak berhati-hati, kita akan tersandung kembali, terjatuh kembali ke jurang gelap yg sama

Weakness

Hai, sapamu dalam kepolosan seorang bayi

Ucapmu dalam kegelapan padaku:
Kau tak dapat melangkah tanpa pandangan menujuku
Kau tak dapat meniti jembatanmu tanpa eksistensi spirit yang ku hujankan padamu hingga detik ini
Tanpa sapaan kepolosanku
Tanpa tingkahku yang malu-malu
Tanpa keragu-raguanku akan dirimu

Tertatihlah dirimu dalam melangkah
Terjatuhlah dirimu dalam palung samudera terdalam
Karena hanya aku yang mampu membangkitkanmu dari segala jatuhmu
Karena hanya aku yang dapat menciptakan senyum di bibirmu dan mengalirkan air mata di sudut-sudut matamu
Karena hanya aku yang dapat mengontrol langkahmu, hatimu, jiwamu, ragamu, rasa cintamu, emosimu dan rasa bencimu

Mungkin itu yang selalu hadir dalam pikirmu
Membanggakan dirimu akan kelemahanku

Suki Desu...

Dalam pekatnya kegelapan di sekitar ku,
selalu coba ku katakan Suki desu padamu
Saat ku inginkan rengkuhan & rangkulan ramah mu,
selalu coba ku katakan Suki desu padamu
Kepedulian semu mu seakan mengucap kalimat sama padaku,
Suki desu... Suki desu... Suki desu...

Andai ku tau segala cahaya dan kegelapan yg bernaung dalam hatimu
Andai ku tau kepingan-kepingan bahagiamu, kesedihanmu, kesakitanmu & kejemuanmu
Kan ku bentangkan kedua sayap ku tuk melindungi segala mu
Kan ku bentangkan kedua sayap ku tuk menjadi jembatan untuk mu meraih segala ingin mu
Kan selalu ku katakan berjuta kalimat Suki desu padamu
Hingga bulu-bulu dari sayap ku berguguran satu persatu,
tanpa pernah ada daya lagi dan perlahan menghilangkan segala jejak eksistensiku dalam kehidupan nyatamu yg sempurna itu

99 DAYS

Tubuh ku memang tak sekuat pikirku
Tubuh ku terlalu rapuh dan jenuh dalam kenihilan dunia ini
Bila telah ditetapkan jangka waktu eksistensi ku,
bawalah aku saat ini juga tak perlu menunggu datangnya 99 hari
Karena ku benci menunggu malaikat menjemput ku,
entah itu malaikat dengan dark wingsnya ataupun malaikat dengan light wingsnya

Lamun ku pada dunia, mengapa terjadi padaku??
Ku menerawang sejauh yg ku bisa,
mengisinya dengan destiny ku selama yg ku dapat
Tak terduga, asa menghampiri seluruh keputusasaan ku
Setiap pagi, ia tersenyum tanpa tau usia ku hanya 99 hari lagi
Setiap hari, ku semakin yakin segala ku adalah miliknya seorang
Senyumnya menguatkan ku menatap hari esok
Ucapnya membawa ku ke kedalaman cinta yg hanya tumbuh untuknya,
terlampau dalam layaknya sebuah palung samudera pertama yg ku jelajahi

Hingga tiba saat hari ke-99
Kau dan cinta dalam mu memelukku dengan sebuah pengorbanan
Bahwa hatimu adalah bagian dari hidupku