PERJALANAN MENJADI DEWASA
Sekarang, terlalu sering ku mengumpat terhadap diriku sendiri.
Terlalu sering aku mempersalahkan diriku sendiri.
Semakin banyak pula kata-kata kotor mengumpat orang yang benar-benar aku benci tanpa sengaja.
Semakin banyak tekanan yang benar-benar harus ku lalui.
Semakin dewasa, semakin berat tekanan itu.
Membuat ku merasa rapuh ditengah-tengah perjalanan,
Saat itu, rasanya ingin ku menghilang dari bumi.
Saat itu, rasanya ingin ku mati.
Tapi sial, ku tahu inilah yang namanya kehidupan.
Inilah yang disebut kedewasaan.
Aku benar-benar harus bertahan, bila ingin hidup berharga di bumi ini.
Inilah aku, aku harus memerankan ‘aku’ dengan baik.
Hingga yang memiliki ‘aku’ mengambilnya dengan kehendak-Nya dari bumi ini.
Aku harus membuat ‘aku’ mencapai klimaks dan akhir dengan baik.
Karena aku telah dikontrak oleh-Nya sejak aku berada di lauhul mahfudz untuk memerankan ‘aku’ dan membuat ‘aku’ ini tumbuh dewasa dan kembali kepada-Nya dengan cara yang baik.
Itulah tugasku, kontrakku pada Tuhanku, Allah SWT…
Lantas, menapa aku harus terus-menerus merasa iri pada mereka yang bernasib sama denganku?
Yang telah menendatangani kontrak peran yang benar-benar sanggup diembannya dengan Tuhan-Nya?
Mungkin ku harus lebih berlapang hati.
Menerima apapun keadaan yang ku alami.
Yang tak pernah ku inginkan dalam hidupku, yang sangat ku jauhi bahkan dalam mimpiku sendiri.
Tak ada yang benar-benar menyenangkan di bumi ini…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar